pura kerta bhuwana giri wilis-jawa Timur
PURA KERTA BHUWANA GIRI WILIS-NGANJUK
JUDUL
VIDEO : Pura Kerta Bhuwana Giri Willis
DURASI
: 00:10:52
JUDUL
VIDEO : UPACARA PIODALAN UMAT HINDU DI NGANJUK BERLANGSUNG HIKMAT
DURASI
: 00:02:32

Pura
Kerta Bhuwana Giri Wilis Kabupaten Nganjuk merupakan Pura tertua di Pulau Jawa
ini, terletak di lereng Gunung Wilis Dusun Cukrik Desa Bajulan Kecamatan
Loceret Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Pemeluk agama hindu di dusun Cukrik ini
sudah ada sejak zaman dahulu, mereka merupakan pemeluk dari sisa-sisa zaman
kerajaan Kediri pada masa kejayaan pemerintahan Prabu Airlangga. Ada sekitar
114 kepala keluarga di wilayah Dusun Curik, yang terdiri dari sekitar 500
jumlah jiwa, serta menjadi pemeluk agama Hindu. Mereka mampu hidup rukun
berdampingan dengan pemeluk agama lain yang bertempat tinggal di dusun-dusun
sekitarnya Ds. Bajulan Kecamatan Loceret.
Pura
kerta Bhuwana giri wilis merupakan Pura Penyawangan dari Candi Sapto Argo yang
berada di puncak Gunung Wilis yang merupakan pemujaan Dewa Wisnu, Dewi Sri dan
leluhurnya. Umat Hindu di Desa Bajulan setahun sekali naik ke puncak Gunung
Wilis untuk melakukan bersih-bersih dan merawat Candi Sapto Argo sekaligus
bersembahyang. Di sekitar Candi Sapto Argo terdapat situs-situs, sedangkan arca
Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang ada di Candi Sapto Argo telah hilang dicuri.
Sesepuh-sesepuh umat Hindu yang ada di Desa Bajulan meyakini bahwa di sekitar
Candi Sapto Argo terdapat lima prasasti dan yang telah ditemukan hanya tiga
prasasti. Ketiga prasasti tersebut dipahat pada batu-batu yang besar yang
hingga kini belum ada penelitian yang dilakukan di Gunung Wilis.
Sementara
itu, umat Hindu di Desa Bajulan juga tidak bisa membaca isi dari prasasti
tersebut karena ketiga prasasti tersebut ditulis dengan simbol-simbol seperti
lingkaran, tanda silang, jalan, air terjun dan lain-lain. Posisi ketiga
prasasti itu berada pada tiga titik yang membentuk-bentuk segi tiga, yang
berada pada lereng sebelah timur, pada lereng bagian.
Di sekitar Candi Sapto Argo terdapat situs-situs, sedangkan
arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang ada di Candi Sapto Argo telah hilang dicuri.
Sesepuh-sesepuh umat Hindu yang ada di Desa Bajulan meyakini bahwa di sekitar
Candi Sapto Argo terdapat lima prasasti dan yang telah ditemukan hanya tiga
prasasti. Ketiga prasasti tersebut dipahat pada batu-batu yang besar yang
hingga kini belum ada penelitian yang dilakukan di Gunung Wilis. Sementara itu,
umat Hindu di Desa Bajulan juga tidak bisa membaca isi dari prasasti tersebut
karena ketiga prasasti tersebut ditulis dengan simbol-simbol seperti lingkaran,
tanda silang, jalan, air terjun dan lain-lain. Posisi ketiga prasasti itu
berada pada tiga titik yang membentuk-bentuk segi tiga, yang berada pada lereng
sebelah timur, pada lereng bagian tengah dan pada lereng sebelah barat dari
Candi Sapto Argo.
Di lereng-lereng Gunung Wilis terdapat tempat-tempat
pertapaan, terutama di lereng Gunung Wilis bagian tengah terdapat gua besar
sebagai tempat bersamadhi. Lokasi Sapto Argo terdiri dari lima Mandala dan
Candi Sapto Argo berada di tengah-tengah Mandala tersebut. Para sesepuh umat
Hindu di sekitar Gunung Wilis tidak mengetahui secara pasti kapan berdirinya
Candi Sapto Argo tersebut. Tetapi umat Hindu disana menemukan pajenengan di
areal Candi Sapto Argo berupa Genta berhulu Triwikrama, Lonceng berhulu
Narasingha, dan Pasepan di sekelilingnya berukiran empat dewa-dewa yang
semuanya disimpan dan dirawat sebagai Pajenengan di Pura Kerta Bhuwana Giri
Wilis.
Pohon Beringin merupakan pohon besar yang dianggap sakral
bagi umat hindu. Pohon beringin memiliki banyak fungsi dalam
ritual-ritual adat dan keagamaan, sehingga pada batangnya sering dililitkan
kain kuning atau kotak hitam putih seperti yang di bali-bali gitu. dan kadang
ada canang sebagai sesajen yg dihaturkan. Pohon beringin sering dijadikan
tempat memuja? Awalnya saya mengira apakah umat hindu itu menyembah pohon?
ternyata anggapan saya itu tidak benar. Kadang kalau kita sering melihat,
mereka memberikan sesaji di pohon beringin, ternyata itu adalah sebuah wujud
rasa syukur mereka terhadap kemurahan Sang Hyang Widi yang diberikan melalui
pohon beringin, bukan berarti para umat hindu memuja pohon.
Pohon beringin itu umurnya bisa mencapai ratusan tahun, dan ukurannya besar, memberikan banyak manfaat bagi manusia, salah satunya memberikan keteduhan.
Kain hitam putihpun ini memiliki makna sendiri, warna hitam dan warna putih menggambarkan watak manusia itu sendiri, ada yang baik dan ada pula yang jahat. Kalau diperhatikan dalam sepotong kain ini, tidak hanya warna hitam dan putih saja yang terdapat didalamnya, namun juga ada warna abu-abu, itu juga merupakan penggambaran watak manusia yang tidak sepenuhnya sempurna baik, tetapi kadang juga memiliki pikiran jahat.




Komentar
Posting Komentar