filsafat sad darsana (nyaya dan mimamsa)
SAD DARSANA (FILSAFAT NYAYA dan FILSAFAT MIMAMSA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah agama Hindu
Dosen Pembimbing:
Siti Nadroh, MA.
Disusun oleh :
M Aris Sunandar (11150321000051)
Kelas
:
Studi-Studi
Agama B
PROGRAM STUDI-STUDI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hindu
termasuk agama tertua yang diyakini oleh manusia dan terus berkembang sampai
saat ini. Agama Hindu yang telah lama berdiri ini memiliki sistem dan ajaran
yang telah terkonsep termasuk ajaran filsafatnya yang di sebut Darsana.
Dalam keyakinan Hindu, sejak dahulu kala para Resi dan Muni melakukan meditasi
yang menghasilkan inspirasi dan mampu menafsirkan ajaran-ajaran Hindu dengan
rinci sebagai aliran-aliran atau mazhab-mazhab filsafat.[1]
Di antara filsafat Hindu (Sad Darsana) ini adalah filsafat Nyaya dan Mimamsa.
Dalam
makalah ini, penulis akan mencoba menjelaskan pengertian dari definisi Sad
Darsana dan mendefinisikan pula makna dari filsafat Nyaya serta filsafat
Mimamsa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Sad Darsana ?
2. Apa itu filsafat Nyaya ?
3. Apa itu filsafat Mimamsa ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Sad
Darasana.
2.
Untuk mengetahui pengertian dari filsafat Nyaya.
3.
Untuk
mengetahui pengertian dari filsafat Mimamsa.
BAB II
PEMBAHASAN
1)
Pengertian Sad Darshana
Dalam dunia
filsafat India terdapat dua golongan yaitu Astika dan Nastika. Sistem
filsafat Hindu tergolong pada klasifikasi Astika karena sistemnya atau
alirannya yang percaya pada kesucian Weda. Menurut klasifikasi ini ada enam
aliran yang disebut dengan Sad Darsana (Sad = enam, Darsana = Pandangan atau
filsafat).[2]
Istilah Sad Darshana ini merupakan suatu
pandangan yang benar terhadap apa yang harus dilakukan oleh seseorang, baik
moral maupun material untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan yang tertinggi
dan abadi. Sad Darsana adalah enam macam
aliran filsafat. Keenam aliran filsafat tersebut yaitu: Adapun bagian-bagian
dari Sad Darsana adalah:
1.
Nyaya, didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama,
yang menyusun Nyayasutra, terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada
(bagian). Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis.Ajaran ini
berdasarka pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis.
2.
Waisasika, pendirinya ialah Kanada dan
penekanan ajarannya pada pengetahuan yang dapat menuntun seseorang untuk
merealisasikan sang diri.
3.
Samkhya, menurut tradisi pendirinya adalah
Kapita. Penekanan ajarannya ialah tentang proses perkembangan dan terjadinya
alam semesta.
4.
Yoga, pendirinya adalah Patanjali dan penekanan
ajarannya adalah pada pengendalian jasmani dan pikiran untuk mencapai Samadhi.
5.
Mimamsa (Purwa-Mimamsa), pendirinya ialah
Jaimini dengan penekanan ajarannya pada pelaksanaan ritual dan susila menurut
konsep weda.Wedanta (Uttara-Mimamsa), kata ini berarti akhir Weda.
6.
Wedanta
merupakan puncak dari filsafat Hindu. Pendirinya ialah Sankara, Ramanuja, dan
Madhwa.Penekanan ajarannya adalah pada hubungan Atman dengan Brahman dan
tentang kelepasan.
Filsafata India
atau Sad Darsana dalam perkembangannya terbagi ke dalam beberapa periodisasi
zaman yaitu:[3]
A.
Zaman Weda (1500 – 600 SM), dimulai oleh
peradaban bangsa Arya yang pada saat itu baru muncul benih pemikiran filsafat
berupa mantra, pujian keagamaan yang terdapat dalam sastra Brahmana.
B.
Zaman Wiracarita (600 – 200 SM), diisi oleh
perkembangan pemikiran filsafat berupa Upanishad.
Ide pemikiran filsafat tersebut berbentuk tulisan yang bertemakan kepahlawanan
dan hubungan antara manusia dengan para dewa.
C.
Zaman Sastra Sutra (200 SM – 1400 M), pada masa
ini semakin banyaknya bahan – bahan pemikiran filsafat berupa sutra.
D.
Zaman Kemunduran (1400 – 1800 M), pemikiran
filsafat yang tidak menghasilkan karena para ahli filsafat hanya menirukan
pemikiran filsafat yang lampau.
E.
Zaman Pembaharuan (1800 – 1950 M), diisi oleh kebangkitan
pemikiran filsafat India yang dipelopori oleh Ram Mohan Ray.
2)
Filsafat Nyaya
A.
Epistimologi
Kata
Nyaya
diartikan sebagai kembali, argument, penelitian dan analisis.[4]
Dapat diartikan pula sebagai suatu pengujian kritis dari obyek
pengetahuan dengan memakai kaidah-kaidah pembuktian secara logika. Nyaya
dikatakan sebagai filsafat hidup walaupun pada pokoknya berhubungan dengan
studi logika atau argument. Hal ini dikarenakan tujuan utama Nyaya adalah
moksa.
Maka
filsafat Nyaya dapat diartikan
sebagai suatu cara memperoleh kebenaran (Brahman) melalui logika. Filsafat
Nyaya menggunakan cara pencarian filosofis yang benar dalam semua obyek dan
subyek pengetahuan manusia termasuk dalam penalaran dan aturan pemikiran. Sehingga ajaran nyaya
dikenal juga ilmu logika dan nalar (Nyaya Vidya atau Tarkawada).[5]
Sistem filsafat Nyaya muncul akibat adanya
perdebatan diantara para ahli pemikir dalam mencari kebenaran dari ayat-ayat
dalam Weda untuk dijadikan landasan melaksanakan upacara-upacara. Dari hal itu
timbul patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar dan logis.
Dalam
filsafat Nyaya, dibutuhkan
instrumen lain atau alat (Pramana) agar pengetahuan yang dimiliki bisa valid. Maka dibangunlah empat alat (catur Pramana), yaitu [6]:
1)
Pratyakasa
Pramana (Pengamatan)
Cara kerja Pratyakasa Pramana adalah segala sesuatu yang eksis di luar manusia bisa diamati keberadaannya selama ia diserap panca indera. Di sini kita bisa lihat bahwa Nyaya adalah realis-empiris. Menurut Nyaya, ada hubungan antara manusia dan segala sesuatu yang eksis sebagai sasaran. Sasaran ini, jika
kita memakai pendekatan Nyaya yang realis-empiris, tentu mesti menempati ruang
dan waktu.
Singkatnya, antara manusia sebagai subjek
pengamat dan benda sebagai objek yang diamati ada sebuah hubungan di antara
keduanya dan hubungan itu ada dan nyata. Jadi Pratyaksa Pramana ini adalah pengamatan
langsung yang menggunakan indera sebagai alat pokok untuk menganalisis.
Pratyaksa Pramana selain menggunakan indera sebagai alat pengamatan, ia juga
menggunakan Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa.
Sebagai contoh, seorang Yogi dapat mengetahui
sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa. Ini disebabkan karena
seorang Yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indra manusia.
Kekuatan seperti itu dimiliknya karena mempunyai menguasai dan menghubungkan
prana pada dirinya dengan prana pada makrokosmos.
2)
Anumana
Pramana (Penyimpulan)
Anumana adalah pramana
yang cukup penting karena ini adalah penyimpulan. Konsep dasarnya adalah bahwa
antara subjek yang mengamati dan objek yang diamati mesti terdapat sesuatu
antara. Ini sangat berbeda dengan silogisme Aristoteles.Silogisme Nyaya tetap
berdasarkan realitas, dan perantara antara subjek dan objek yang diamati
tersebut juga bersifat empiris.
3)
Upamana
Pramana (Perbandingan)
Upamana adalah cara
memperoleh pengetahuan dengan cara analogi atau perbandingan. Konsep dasar Upamana adalah membandingkan sesuatu
dengan sesuatu yang lain yang hampir sama agar apa yang kita bandingkan
tersebut dipahami oleh orang lain walaupun orang tersebut belum pernah
menyaksikan secara langsung apa yang kita maksudkan.
4)
Sabda Pramana
(Penyaksian)
Pramana yang
terakhir adalah Sabdha atau kesaksian.Pengetahuan bisa didapatkan melalui
kesaksian orang yang mumpunyai tentang sesuatu hal dan yang bisa
dipercaya.Dalam hal ini, Weda adalah kesaksian yang bisa dipercaya
kebenarannya.Orang yang bisa dipercaya kesaksiannya sebagai sumber pengetahuan
disebut Laukika (logika).
sementara kitab
suci Weda sebagai sumber pengetahuan disebut Vaidika.Walaupun kita tidak dapat
melihat secara langsung, tapi kita percaya kepada orang yang pernah membaca kitab
weda tersebut.[7]
Catur Pramana
|
||||||||||||||
|
|
||||||||||||||
terdiri dari
|
||||||||||||||
|
|
||||||||||||||
———————————————————————————————
|
||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
dengan persepsi berupa
|
Menggunakan
|
dapat berupa
|
dari sumber
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
——————–
|
————
|
————————
|
————–
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
Laukika |
Alaukika |
Silogisme |
Analogi |
Model |
Simbol |
Laukika |
Wahyu |
|||||||
B.
Tuhan Dalam Pandangan Filsafat Nyaya (Paramatman)
Filsafat Nyaya meyakini kebenaran weda, maka
dalam Nyaya ada kepercayaan tentang adanya Tuhan.[8] Dalam Weda,
Tuhan itu ada, maha kuasa, esa dan segalanya. Tuhan adalah penyebab tertinggi
penciptaan, segala pencipta, pemelihara dan sebagai pelebur alam semesta. Tuhan
adalah sumber awal dan akhir dari segala yang ada.[9]
Ia tidak
menciptakan dunia dari ketiadaan, tetapi dari atom-atom eternal; ruang, waktu,
pikiran dan jiwa-jiwa. Tuhan dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan
penyebab materialnya. Ia juga sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga
dalam eksistensi oleh keinginan Tuhan.
Ia juga sebagai
pelebur yang mengijinkan kekuatan destruksi beroperasi ketika tatanan dunia
moral menghendakinya kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal (kekal) karena
dunia ruang dan waktu, pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya tetapi ia
dihubungkan dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang bersemayam didalamnya ia
maha kuasa- walaupun ia dipandu didalam aktifitas perbuatan buruk.
Ia maha tahu
sepanjang ia mempunyai pengetahuan benar tentang semua benda dan peristiwa. Ia mempunyai
kesadaran eternal sebagai kekuatan kognisi langsung dan teguh semua objek.
Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan, bukan
esensinya seperti dianut oleh Vedanta. Ia memiliki kesempurnaan (sadisvarya)
dan magis, maha agung, megah, indah dan tak terbatas.
Tuhan sebagai
penyebab berjalannya dunia dengan tepat, demikian juga Tuhan merupakan penyebab
dari tindakan-tindakan semua makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja,
ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dia
dibawah direksi dan arahan Tuhan.
Dengan demikian, Tuhan mengarahkan semua
makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara manusia adalah penyebab
instrumental efisien. Jadi Tuhan adalah pengatur moral dunia beserta semua
makhluk hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan
dan penderitaan kita.[10]
C.
Atman
Atman merupakan percikan-percikan halus dari
Brahman (Sang Hyang Widhi) yang berada di dalam setiap makhluk hidup.[11]
Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman yaitu yang menghidupkan manusia.
Hubungan atman dengan badan ini ibarat bola lampu dengan listrik. Bola lampu
tidak akan menyala tanpa listrik, demikian pula badan jasmani takkan hidup
tanpa atman.
Demikianlah
atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Telinga tak
dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman,
kulit tak dapat merasakan- bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Sang
Hyang Widhi, bagaikan matahari dengan sinarnya. Sang Hyang Widhi sebagai
matahari dan atman- atman sebagai sinarNya yang terpencar memasuki dalam hidup
semua makhluk.
Oleh karena atman adalah bagian dari Brahman, maka atman pada
hakekatnya sama dengan sumber itu sendiri. Dalam weda (Bhagavad-Gita II sloka
23, 24, dan 25) menyebutkan sifat-sifat atman sebagai berikut[12]:
i.
“nai'nam chhindanti sastrani
na chai'nam kledayanty apo
na soshayati marutah”, artinya:
na chai'nam kledayanty apo
na soshayati marutah”, artinya:
Senjata
tidak dapat melukai Dia
dan api tidak bisa membakar- Nya
angin tidak dapat mengeringkan Dia
dan air tidak bisa membasahi- Nya
dan api tidak bisa membakar- Nya
angin tidak dapat mengeringkan Dia
dan air tidak bisa membasahi- Nya
ii.
”Achedyo
'yam adahyo 'yam
akledya 'soshya eva cha
nityah sarwagatah sthanur
achalo 'yam sanatanah”, artinya:
akledya 'soshya eva cha
nityah sarwagatah sthanur
achalo 'yam sanatanah”, artinya:
Dia
tidak dapat dilukai, dibakar
juga tidak dikeringkan dan dibasahi
Dia adalah abadi, tiada berubah
tiada bergerak, tetap selama- lamanya.
juga tidak dikeringkan dan dibasahi
Dia adalah abadi, tiada berubah
tiada bergerak, tetap selama- lamanya.
iii.
“Awyakto
'yam achintyo 'yam
Awikaryo 'yam uchyate
tasmad ewam widitasi 'nam
na 'nusochitum arhasi”, artinya:
Awikaryo 'yam uchyate
tasmad ewam widitasi 'nam
na 'nusochitum arhasi”, artinya:
Dia
dikatakan tidak termanifestasikan
tidak dapat dipikirkan, tidak berubah- ubah
dan mengetahui halnya demikian
engkau hendaknya jangan berduka.
tidak dapat dipikirkan, tidak berubah- ubah
dan mengetahui halnya demikian
engkau hendaknya jangan berduka.
D.
Kelepasan dalam filsafat Nyaya
Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui
pengetahuan yang benar dan sempurna. Sebagai wujud dari kelepasan ialah
terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan. Agar
kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas dihentikan sehingga
terwujudlah kelepasan yaitu suatu keadaan yang tidak terikat akan karma ataupun
phala karma.
Untuk menghentikan aktifitas maka manusia harus
melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan
pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidaktahuan yang menyebabkan orang
menjadi sadar dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan. Dengan
demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan.
Kelepasan ini disebut pula dengan Moksa.
Sebagaimana tujuan agama Hindu yang ada dalam Weda, Moksa merupakan tujuan
tertinggi yaitu sebuah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat
duniawi dan atman bersatu kepada Brahman.[13]
Moksa selain dapat dicapai setelah di dunia
akhirat, juga dapat dicapai ketika hidup namun terbatas kepada orang-orang yang
sudah bebas dari keterikatan bentuk duniawi dan suka duka kehidupan seperti
halnya para Maharsi yang telah bebas dari keterikatan keduniawian.
3)
Filsafat Mimasa
A.
Epistimologi
Filsafat
Mimamsa adalah salah satu dari enam sistem filsafat yang sangat menekankan
ritual sebagai jalan menuju Moksa.[14] Istilah
Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’,
‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’. Ditinjau dari segi etimologi
ingin berfikir : disini menandakan suatu pemikiran, pemeriksaan atau
penyelidikan, dari teks weda. Ia melengkapi pandangan pada weda (kebenaran
abadi).[15]
Menurut Matius Ali dalam bukunya, secara
etimologis kata Mimamsa berarti ‘bertanya’ atau ‘penyelidikan’.Mimamsa
dibagi menjadi dua sistem, yakni purwamimamsa dan uttaramimamsa. Kata purna
berarti lebih dahulu, maka purwamimamsa artinya yang berurusan dengan bagian
lebih dahulu dari pustaka weda. Demikian pula kata uttara berarti yang
kemudian jadi uttaramimamsa berurusan dengan bagian akhir dari pustaka
weda.
Kedua sistem tersebut mempergunakan metode
logika yang sama untuk menghadapi persoalan, tetapi memakai lingkungan tafsiran
masing-masing. Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi
terlarang dalam weda, memimpin ke jurusan kebebasan roh. Jadi secara singkatnya
Mimamsa disebut Karma Mimamsa karena dalam prakteknya sangat menekankan karma
yaitu pelaksanaan upacara agama untuk mencapai tujuan.
Begitu juga Uttara mimamsa, juga disebut Jnana
mimamsa karena menafsirkan pengetahuan yang dikemukakan dalam pustaka weda,
demi pembebasan roh.
Dalam buku yang ditulis oleh Matius Ali
disebutkan bahwa Mimamsa yang bagian pertama dari filsafat ini adalah Purva
Mimamsa, sedangkan bagian kedua disebut Uttara Mimamsa. Untuk-menghindarkan
kebingungan, maka Purva Mimamsa disebut dengan Mimamsa, sedangkan
Uttara Mimamsa disebut dengan Vedanta.[16]
Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini yang hidup
antara abad 3-2 SM. Ajarannya tercantum dalam kitab Mimamsa sutra. Di
suatu tempat antara tahun 200-450 M penemuan-penemuan yang rasional dan
definitif itu didokumentasikan dalam Purvamimamsa sutra.Pada zaman
berikutnya ajaran Mimamsa dikomentari oleh pengikutnya, yakni Sabaraswamin pada
abad ke 4 M, Prabhakara pada tahun 650, dan Kumarila Bhata tahun 700.
Oleh karena itu terjadilah dua aliran dalam
Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata. Sendi utama teori pengetahuan
Mimamsa adalah pemahaman tentang keabsahan diri pengetahuan. tidak seperti
teori pengetahuan lain yang mempertahankan bahwa klaim-klaim pengetahuan
diketahui sebagai yang benar ketika mereka berhubungan dengan realitas, atau ketika
mereka menuntun orang kepada tindakan yang berhasil, atau ketika mereka berpadu
dalam satu sistem yang konsisten.
Mimamsa menekankan bahwa kodrat pengetahuan
itulah yang memberi kesaksian terhadap dirinya sendiri. Keyakinan kita akan
kebenaran klaim yang ditunjuk pengetahuan dari kodratnya muncul sebagi satu
sosok pengetahuan itu sendiri.[17]
Prabhakara mengajarkan lima cara untuk
memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara yang mana lima
diantaranya sama dengan ajaran Prabhakara. Cara-cara tersebut adalah:
a.
Pratyaksa (pengamatan)
b.
Pratyaksa (penyimpulan)
c.
Sabda (kesaksian)
d.
Upamana (pembandingan)
e.
Arthapatti (persangkaan)
f.
Anupalabdi
(ketiadaan)
g.
B.
Alam Menurut Filsafat Mimamsa
Mimasa mengatakan bahwa alam ini nyata
dan kekal serta terjadi dari atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat
oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran mimasa baik
phrabakara maupun kumarila bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di
alam ini yaitu: substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari
sembilan yaitu:
1)
Bumi.
2)
Air.
3)
Api.
4)
Hawa.
5)
Akasa.
6)
Akal.
7)
Pribadi.
8)
Ruang.
9)
Waktu.[18]
Sad Dharsana
|
Mimamsa
(9 Kategori)
|
Vedanta
|
Nyaya
(6
Kategori)
|
Veisesika
(7Kategori)
|
Samkhya
(25 Kategori)*
|
Yoga
|
Unsur Kosmologi
|
Bumi
|
Kualitas
|
Substansi
|
Purusa
|
Satva Guna
|
|
Air
|
Karma
|
Kwalitas
|
Prakrti
|
Rajas Guna
|
||
Api
|
Universalia
|
Aktifitas
|
Mahat
|
Taman Guna
|
||
Hawa
|
Individualitas
|
Sifat Umum
|
Ahamkara
|
|||
Akasa
|
Niscaya
|
Sifat
perorangan
|
Tanmatra (5
Indera)
|
|||
Akal
|
Negasi
|
Pelekatan
|
5 Manas
|
|||
Pribadi
|
Ketidakadaan
|
5 Karmenrdiya
|
||||
Ruang
|
5 Maheuhuta
|
|||||
Waktu
|
Sedang
substansi menurut Kumarita Bhata mengajarkan ada sebelas yaitu sembilan sama
dengan Prabhakara dan ditambah dua yaitu kegelapan dan suara.
Substansi itu adalah sesuatu yang dapat diamati
karena terdiri dari atom-atom yang dapat diamati seperti debu halus yang tampak
dalam sinar matahari. Substansi, kwalitas dan sifat umum sesungguhnya tidak
dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiganya itu- sebenarnya
berbeda karena ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat.
C.
Hukum Karma
Kata
karma berasal dari kata “Kr” yang artinya bergerak atau berbuat.[19]
Karma atau Karmaphala adalah segalaa gerak atau tindakan yang dilakukan,
disengaja maupun tidak, baik maupun buruk, benar maupun salah dan disadari
ataupun diluar kesadaran.
Mimamsa
mengajarkan bahwa hukum karma merupakan hukum moril yang mengatur dunia beserta
isinya. Apa yang terjadi didunia ini merupakan akibat dari karma terdahulu oleh
karena itu maka apa yang akan menimpa dunia ini seolah-olah sudah ditentukan
oleh hukum moril itu. Makhluk dan manusia tidak dapat membantah dan menentang
serta lari dari kenyataan yang dia alami.
Atas
dasar itu maka diajarkan bahwa untuk mewujudkan kebaikan dan ketentraman, di
masa yang akan datang sangat perlu untuk berbuat kebaikan dan kebenaran selama
hidup ini. Karma yang baik adalah perbuatan yang dilandasi oleh ketentuan yang
diajarkan oleh Weda yaitu dharma (upacara korban).
Segala
baik dan buruk suatu perbuatan akan membawa akibat di dunia sekarang dan juga
di akhirat nanti. Ketika atman dengan sukma sarira (alam pikiran) terpisah dari
tubuh dan akan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang. Brahman
akan menghukum atman yang berbuat dosa dan merahmati atman yang berbuat
kebaikan.
Pengaruh
hukum itu pula yang akan mempengaruhi corak dan nilai watak manusia. hal itu
memunculkan adanya mascam-macam ragam watak manusia di dunia. Hukuman kepada
atman yang selalu melakukan dosa selama renkarnasi, akan membuat derajatnya
semakin turun.
D.
Kelepasan Menurut Filsafat Mimamsa
Makhluk-makhluk
yang hidup di dunia ini terutama manusia dipandang berjiwa oleh Mimamsa. Karena
makhluk yaitu manusia berjumlah banyak, jiwa itupun banyak. Atas dasar itu,
maka Mimamsa menganut sistem pluralis. Mimamsa mengakui banyak jiwa di dunia
ini. Atman berjumlah tak terbatas dan ada dimana-mana serta kekal. Tiap-tiap
tubuh makhluk yang hidup memiliki satu jiwa.
Sebagai
jalan untuk mendapatkan kelepasan, dalam filsafat Mimamsa mengajarkan manusia
hendaklah senantiasa melakukan dharma dalam hidupnya, yaitu upacara keagamaan
dengan benar yang dilandasi oleh ketentuan Weda, dan sebisa mungkin mejauhkan
diri dari segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan Weda.
Bila
ternyata jiwa yang kekal itu mengalami sengsara setelah meninggal maka jalan
yang patut ditempuh untuk membebaskan jiwa itu dari kesengsaraan adalah
mengadakan upacara korban terhadap jiwa tersebut. Karena upacara korbanlah yang
dapat menbersihkan dan membebaskan jiwa dari kesengsaraan. Sedangkan lain
halnya bila orang tidak melakukan upacara korban keagamaan berarti mereka telah
merusak hidupnya dan tidak akan mendapatkan kelepasan.[20]
Semua
perbuatan dikatakan mempunyai dua pengaruh atau akibat, yaitu satu yang luar
(external) dan lainnya yang dalam (internal); satu yang nyata dan yang lain
terpendam, yang satu kasar dan yang lain halus. Pengaruh dalam bersifat kekal
dianggap sebagai “ke-ada-an” (being), sedang pengaruh luar bersifat sementara.
Maka perbuatan berfungsi sebagai kendaraan untuk menanam benih kehidupan pada
masa yang akan datang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam agama Hindu terdapat ajaran filsafat yang disebut dengan Sad
Darsana yaitu enam ajaran pokok filsafat dalam Hindu. Ajaran filsafat ini merupakan
suatu pandangan yang benar terhadap apa yang harus dilakukan oleh seseorang,
baik moral maupun material untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan yang
tertinggi dan abadi. Diantara enam
dari Darsana ini adalah filsafat Nyaya dan Mimamsa.
Filsafat Nyaya adalah suatu cara
memperoleh kebenaran (Brahman) melalui logika.filsafat Nyaya adalah cara
pencarian mendapatkan kebenaran melalui pola pemikiran yang sistematis dan
valid, dengan pengetahuan yang sistematis dan valid ini maka akan mendapatkan
kebenaran yang sesungguhnya.
Dalam filsafat Nyaya, dibutuhkan instrumen
lain atau alat (Pramana) agar pengetahuan yang dimiliki bisa valid. Maka dibangunlah empat alat (catur Pramana), yaitu: 1. Pratyakasa
Pramana (Pengamatan), 2. Anumana Pramana (Penyimpulan), 3. Upamana Pramana (Perbandingan), 4.
Sabda Pramana (Penyaksian).
Filsafat Nyaya
meyakini keberadaan Tuhan (Brahman), Brahman adalah akar dari adanya sesuatu,
Ia adalah yang mengatur segala seesuatu dan yang menghancurkannya pula. Dalam
filsafat ini pula meyakini bahwa Brahman memancarkan dirinya keseluruh alam,
jadi dalam diri makhluk terdapat Brahman yang itu disebut dengan Atman, Atman
yang ada pada diri manusia disebut Jiwatman.
Selain itu, filsafat
ini membahas tentang kelepasan bahwa, Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui
pengetahuan yang benar dan sempurna. Sebagai wujud dari kelepasan ialah
terbebasnya jiwatman dari kelahiran kembali.
Selanjutnya adalah filsafat Mimamsa yaitu:
filsafat yang menandakan suatu pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari
teks weda. Ia melengkapi pandangan pada weda (kebenaran abadi). Mimamsa adalah
filsafat yang bersandar pada kitab Weda bab awal yaitu pada zaman Brahmana,
maka dari itu filsafat Mimamsa lebih cenderung pada ritual ajaran.
Filsafat ini juga memiliki pemikiran tentang
konsep tentang alam bahwa alam ini nyata dan kekal serta terjadi dari atom-atom
yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan
sendirinya, Tuhan hanya menciptakan alam ini dari unsur-unsur yang telah ada
sebelumnya (atom-atom).
Filsafat ini juga membahas tentang Karma yaitu
hukum karma merupakan hukum moril yang mengatur dunia beserta isinya. Apa yang
terjadi didunia ini merupakan akibat dari karma terdahulu oleh karena itu maka
apa yang akan menimpa dunia ini seolah-olah sudah ditentukan oleh hukum moril
itu.
sama halnya dengan filsafat Nyaya, Mimamsa juga
membahas tentang kelepasan atau Moksa, dalam
filsafat Mimamsa mengajarkan manusia hendaklah senantiasa melakukan dharma
dalam hidupnya, yaitu upacara keagamaan dengan benar yang dilandasi oleh
ketentuan Weda, dan sebisa mungkin mejauhkan diri dari segala bentuk tindakan
yang bertentangan dengan Weda agar mampu mencapai kelepasan atau Moksa.
DAFTAR PUSTAKA
·
Gde, Anak Agung. Oka Netra, Tuntunan Dasar
Agama Hindu, Jakarta: Hanuman Sakti, 1994.
·
Adiputra, I Gede Rudia dkk, Tattwa Darsana,
Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi, 1990.
·
Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India,
Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1989.
·
Swabodhi, Harsa, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu
Dharma, Medan: Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980.
·
Ali,
Mukti Agama Agama di Dunia,
Yogyakarta: IAIN SUNAN KALIJAGA
PRESS, 1988.
·
Koller, John M., Filsafat India (terj)., Ledalore,
Flores:2010
·
Ali, Matius, Filsafat India, Karang
Mulya: Sanggar Luxor , 2010.
·
Burhanuddin
, Yudhis M. , Bali yang Hilang, Yogyakarta: Kanikus, 2008.
·
Diakses
pada tanggal 18 Maret 2017 http://maretanakbali.blogspot.co.id/2014/08/astika-dan-nastika-filsafat-hindu_88.html.
·
Diakses
pada tanggal 18 Maret 2017 http://www.bimbingan.org/perkembangan-filsafat-india-hindu-dan-budha.html.
[2]
Diakses
pada tanggal 18 Maret 2017
http://maretanakbali.blogspot.co.id/2014/08/astika-dan-nastika-filsafat-hindu_88.html.
[3]
Diakses
pada tanggal 18 Maret 2017 http://www.bimbingan.org/perkembangan-filsafat-india-hindu-dan-budha.html.
[4]
Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta: PT.
BPK Gunung Mulia, 1989, hlm.53.
[5]
Harsa Swabodhi, Opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu
Dharma, Medan:Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980, hlm.12.
[6]
Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta: PT.
BPK Gunung Mulia, 1989, hlm.53.
[7]
Ibid, hlm.56.
[9]
Drs. Anak Agung Gde. Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, Jakarta:
Hanuman Sakti, 1994, hlm20.
[10]
Ibid, hlm.21.
[11]
Ibid, hlm.25.
[12]
Ibid, hlm.27.
[13]
Ibid, hlm.35.
[14]
Yudhis M. Burhanuddin, Bali yang Hilang, Yogyakarta: Kanikus, 2008,
hlm.56.
[15]
Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu
Dharma, 1980, hlm.27.
[16]
Matius Ali, Filsafat India, Karang
Mulya: Sanggar Luxor, 2010, hlm. 89.
, hlm. 155.
[19]
Drs. Anak Agung Gde. Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, Jakarta:
Hanuman Sakti, 1994, hlm28.
[20]
I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa
Darsana, Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi, 1990, hlm.42.
Komentar
Posting Komentar