pura besakih
JUDUL
VIDEO : Indonesia, Bali, Pura Besakih, The Mother Temple of Besakih
DURASI
: 00:16:51
JUDUL
VIDEO : Sejarah Nama 'BESAKIH' Dari Pura Besakih
DURASI
: 00:05:43
JUDUL
VIDEO : Sejarah Pura Besakih
DURASI
: 00:06:00
JUDUL
VIDEO : NET. BALI - BALI HISTORY #GUNUNG AGUNG & PURA BESAKIH
DURASI
: 00:05:05
Pura
Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, kecamatan
Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, merupakan pura terbesar di Bali.
ASAL MULA PURA
BESAKIH
Asal mulanya ada Besakih,
sebelum ada apa-apa hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat
itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan
pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu
panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang
(sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau
pertapa yang bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dari Hindustan
(India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara
Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan
kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang
Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung,
kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di
Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau
bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para
pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu
dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat ke arah timur
bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah
tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan
belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji)
Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji)
Kemudian perabasan hutan
dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaannya semula (Konon ke gunung
Raung di Jawa Timur. Selama beberapa waktu Sang Yogi
Markandeya tinggal di gunung Raung. Pada suatu hari
yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan perabasan
hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi dan pertapa yang
akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa
bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000
orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan
membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam
di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan
tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara
yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya.
Setelah upacara itu selesai,
para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang
pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang
sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang
Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau
mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya
masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.
Di tempat di mana dimulai
perabasan hutan itu Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu
yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah
Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya
diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu
ditanam diberi nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi Markandeya yang datang pada
waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak
lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah dialami dahulu. Demikianlah
sedikit kutipan dari lontar Markandeya Purana tentang asal mula adanya
desa dan pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki
dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.
Mungkin berdasarkan
pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam
ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap
kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung,
kantor-kantor sampai kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di
sawah ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan
upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan.
Setelah itu barulah
pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar mendapatkan keberhasilan secara
spiritual keagamaan Hindu di samping usaha-usaha yang dikerjakan dengan
tenaga-tenaga fisik serta kecakapan atau keahlian yang mereka miliki.
Selanjutnya memperhatikan isi lontar Markandeya Purana itu tadi dan
dihubungkan pula dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan
sehari-hari sampai saat ini tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam
hal pengaturan desa adat dan subak di persawahan. Oleh karena itu dapat kita
simpulkan bahwa Besakih adalah tempat pertama para leluhur kita yang
pindah dari gunung Raung di Jawa Timur mula-mula membangun suatu desa
dan lapangan pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan.
Demikian pula mengembangkan ajaran-ajaran agama Hindu.
Di
antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, pura
Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan
pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura
yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau
candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu DewaBrahma, Dewa
Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara
dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi. Pura Besakih masuk dalam daftar pengusulan sityus
warisan dunia UNESCO sejak tahun 1995.
Keberadaan fisik
bangunan Pura Besakih, tidak sekadar menjadi tempat pemujaan terhadap Tuhan
YME, menurut kepercayaan Agama Hindu Dharma, yang terbesar di pulau Bali, namun
di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan maknaGunung Agung.
Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan
Alam Arwah, Alam ParaDewata, yang menjadi utusan Tuhan untuk wilayah pulau Bali
dan sekitar. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat
bangunan untuk kesucian umat manusia, Pura Besakih yang bermakna filosofis.
Makna filosofis yang
terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur
kebudayaan yang meliputi:
- Sistem pengetahuan,
- Peralatan hidup dan teknologi,
- Organisasi sosial kemasyarakatan,
- Mata pencaharian hidup,
- Sistem bahasa,
- Religi dan upacara, dan
- Kesenian.
Ketujuh unsur
kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan
wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun masa
Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap ontologi dan
tahap fungsional.


Komentar
Posting Komentar